Sejarah Kopi Arabika Toraja
        Rumbu Official,Sejarah kopi diperkirakan dimulai sejak abad ke-16. Kala itu, India mengirim bibit kopi Yemen atau Arabica kepada Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1696. Sayangnya, bibit pertama gagal tumbuh karena musibah banjir di Batavia.
        Pengiriman kedua berjalan sangat lancar. Benih kopi tersebut berhasil tumbuh di Indonesia. Kemudian pada tahun 1711, biji-biji kopi itu dikirim ke Eropa. Dalam waktu 10 tahun, ekspor kopi meningkat sampai 60 ton per tahun. Alhasil, Indonesia pun menjadi daerah perkebunan Kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia.
         Ditahun 1700an harga kopi yang dikirim dari batavia lebih kurang 3 guilder/kg di amsterdam serta itu sama juga dengan lebih dari satu ratus usd/kg dengan kurs sekarang ini, harga kopi benar-benar sangat mahal waktu itu. akhir abad 18 harga kopi mulai turun jadi 0. 6 guilder/kg hingga kopi dapat diminum untuk kelompok umur yang lebih luas lagi. Terlihat bahwa perdagangan kopi amat beruntung voc, namun tidak untuk petani kopi di indonesia waktu itu dikarenakan diterapkannya sistem cultivation cultuurstelsel.
        Di wilayah Indonesia, kopi mulai ditanam pada abad ke-17 dan ini untuk diminum oleh kalangan atas orang Belanda. Pada zaman penjajahan tentara Jepang, pihak Jepang mencoba membuka perkebunan kopi di Toraja namun gagal. Dengan demikian, kopi Toraja hilang di pasar sejak zaman Perang Dunia Dua.
       siapa yang tak kenal dengan Mr. Seino, dia adalah potret orang Jepang biasa. Hanya saja, dia mencintai Toraja dan masyarakat Toraja daripada siapa pun di Jepang. Pada 31 Oktober 2008, Mr. Seino akhirnya menutup usia sesudah hidupnya selama 65 tahun karena kanker liver. Sambil merasa minta maaf kepada masyarakat Toraja karena dia tidak bisa cukup mengembalikan sesuatu yang berguna terhadap hati baik dan bantuan masyarakat Toraja selama ini. Meninggalkan mimpi dan keinginan besar untuk Toraja kepada kita semua.
        Sestelah perang, seorang Jepang, Mr. Oki, presiden perusahaan perdagangan kopi, mendengar adanya kopi yang bagus di Toraja namun sudah punah. Dia bermimpi membuat ulang kopi Toraja lalu memutuskan untuk mencari bibit-bibit kopi arabika Toraja. Mr. Oki dan timnya datang ke Toraja pada sekitar tahun 1970 dan terus mencari bibit kopi di wilayah pengunungan dengan kuda atau jalan kaki selama satu bulan lebih. Berbagai kesulitan dihadapi oleh mereka. Akhirnya, mereka menemukan beberapa bibit kopi arabika toraja dan mencoba mengembangkannya kembali dan secara pelan-pelan memperbanyak bibitnya. Lalu, mereka bermimpi membuka lahan untuk membuat perkebunan kopi Toraja yang akan diekspor ke pasar dunia.
       Sesudah menentukan lokasi perkebunan kopi arabika tora, muncul masalah lagi. Belum ada jalan sampai ke lokasinya. Mr. Seino meminta pihak pemerintah daerah setempat untuk membuat jalannya namun ditolak. Apa boleh buat, Seino harus memutuskan membuat sendiri jalan tersebut yang jaraknya 6 km sampai ke bukit Gunung Padamaran di atas. Kopi Arabika bisa berbuah jika ketinggiannya di atas 800 meter. Makin tinggi lokasinya makin bagus kopi Arabikanya. Kondisi saat itu tentu sulit. Semuanya hutan termasuk lokasi rencana perkebunan kopi itu dan jalan sambungannya. Dengan berbagai kesulitan, akhirnya perkebunan kopi di atas ketinggian 1000 meter dan jalan 6 km sampai ke perkebunan diselesaikan. Jalan pegunungan ini dinamakan Jl. Seino, satu-satunya jalan yang bernama orang Jepang di Indonesia.
      Mr. Seino bekerja di Toraja sebagai kepala perkebunan kopi yang pertama pada 1977-1984, dan sekali lagi pada 1989-1993. Sesudah kembali ke Jepang, Mr. Seino tetap bertugas sebagai pengawas perkembangan perkebunan kopi di Toraja.
       Kopi Toraja merupakan salah satu komoditi Kopi Arabika unggulan asal Toraja. Kopi Toraja memang telah terkenal sejak masa penjajahan Belanda di negeri ini. Tana Toraja adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang berada di daerah pegunungan. Toraja berjarak cukup jauh dari Kota Makassar (Ibukota Provinsi) yaitu sekitar 300Km. Sama halnya dengan -kopi di daerah lainya, kopi Toraja juga memiliki karakter yang khas, salah satunya yaitu kandungan asamnya rendah dan memiliki body yang cukup berat, kopi Toraja juga biasa dikenal dengan Kopi Celebes Kalossi. Kata “Celebes Kalossi” tersebut diadopsi dari nama kolonial Belanda untuk salah satu daerah di Sulawesi. Saat ini pemerintah daerah telah mengembangkan lahan seluas 1200 hektar untuk pengembangan kopi organic di Kecamatan Sesean dan Rindingallo di Toraja Utara dan beberapa tempat lainnya. Namun sangat disayangkan ekspor kopi Toraja tahun ini (tahun 2012) akan menurun bila dibandingkan dengan jumlah ekspor tahun lalu. Jumlah ekspor kopi Arabika asal Sulawesi Selatan periode Januari hingga Oktober tahun 2012 mencapai 1.150 ton. Sedangkan ekspor Januari hingga Oktober tahun 2011 mencapai 5.759 ton. Dari total ekspor kopi tersebut sebanyak 70 persen merupakan kopi Toraja.
Axact

Rumbu Official

Komunitas I Managament I Coffee Shop I Entertainment I Culture House I Old Motorcycle I Forum Diskusi I Seni Motor Lawas I Tobacco Pipe.

Post A Comment:

0 comments: